Oleh: bolankgila | Juni 2, 2008

narsis atau sombong?

Kisah si Narcissus
Kisah sang penakluk wilayah Thespiae di Boetia yang dianugerahi ketampanan, Narcissus, Narkissos atau Sang Pemuja Diri Sendiri

Beberapa versi kisah Narcissus salah satunya oleh Ovid dalam ‘Echo’. Narcissus yang sedang berburu kijang di hutan merasa haus dan mengambil air di sebuah sungai, namun ia tak bisa menyentuh air itu karena takut merusak bayangan yang ada pada permukaan air. Narcissus meninggal dengan memandangi bayangannya sendiri dan tumbuhlah bunga Narcissus di tempat ia meninggal.

Namun Pausanias menolak kisah seseorang yang tidak mampu membedakan manusia nyata dan bayangan, menurutnya Narcissus jatuh cinta pada saudara kembar perempuannya, yang mengenakan pakaian sama dengan Narcissus ketika berburu di hutan. Ketika saudara kembarnya meninggal, Narcissus sangat terpukul dan menganggap bayangan yang ia lihat di permukaan air itu adalah saudara kembarnya (www.wikipedia.com).

Saya yakin anda yang tinggal di kota besar di Indonesia juga tidak akan sanggup mengambil air di sungai untuk minum, bukan karena ada bayangan yang mempesona, pastinya. Selanjutnya kita menjadi tidak asing dengan si Narcissus, atau lebih jamak diucapkan dengan lebih singkat; narsis.

Ada yang menganggap bahwa narsis itu menyebalkan, sangat tidak menyenangkan bersama seseorang yang narsis, apalagi sekelompok orang narsis, karena itu berarti banyak persaingan. Tetapi, di kubu lain, narsis merupakan ‘kewajiban’ yang tidak perlu diperdebatkan sebagai sesuatu yang buruk.

Saya rasa ada salah tangkap dalam memahami istilah ini, mungkin juga kata ini mengalami perubahan kisah di nusantara. Melihat contoh di atas, maka bagi yang berpandangan positif, narsis di sini sepertinya mengandung unsur kepercayaan diri, penghargaan diri. Sementara pada pada lawannya, narsis mengacu pada kesombongan, yang sudah pasti membuat orang di sekelilingnya lari menjauh.

Menarik untuk kita lihat pemahaman narsis ini lebih jauh, karena dalam psikologi klinis dikenal pula istilah Narcissistic Personality Disorder. Dalam bahasa umum, orang narsisistik adalah orang yang menjadikan dirinya pusat dari segalanya.

The narcissist becomes his own world and believes the whole world is him
(Theodore I. Rubin)

Ia memiliki penilaian berlebih pada dirinya dalam skala ekstra besar, sehingga meresahkan, mengganggu kehidupan sosial sekelilingnya. Namun, gejala narsis ini pun dapat berlaku di masyarakat luas. Agar tidak selalu menebak, ada baiknya kita menengok definisi teoritik dan studi empirik dalam psikologi.

Narsisisme dalam Studi Psikologi
Dimensi kepribadian narsistik berasal dari kriteria narsistik dalam gangguan kepribadian, namun bedanya narsisme ini ditujukan bagi individu ‘normal’ (masih dapat berfungsi secara normal) di masyarakat.

Narcissists characterized by a highly positive or inflated self-concept. Narcissists use a range of intrapersonal and interpersonal strategies for maintaining positive self-views.( Campbell, Rudich,& Sedikies , 2002)

Kita melihat kata kunci dalam narsistik yaitu: konsep diri yang terlalu melambung. Tujuannya untuk melanggengkan pandangan terhadap diri untuk selalu positif, maka karakter ini merupakan strategi untuk menjalin hubungan dengan orang lain (interpersonal). Strategi ini juga berlaku bagi seseorang dalam memandang dirinya (intrapersonal).

Beberapa studi psikologi yang mengupas narsistik terkait dengan interaksi sosial sebagian besar menggambarkan hubungan yang tidak sehat dan distorted, corrupted karena karakter ini, di antaranya; fantasi tentang ketenaran atau kekuasaan (Raskin & Novacek, 1991 dalam Campbell, et al 2002), merespon kritik dengan kemarahan dan atribusi pencapaian diri (Campbell, Reeder, Sedikides, & Elliot, 2000; Far-well & Wohlwend-Lloyd, 1998; Rhodewalt & Morf,1996 dalam Campbell et al 2002), juga sikap merendahkan orang yang dianggap mengancam (Kernis & Sun, 1994 dalam Keith,2002). Narsistik juga kurang mampu menjaga komitmen dan memberikan perhatian dalam interaksinya dengan orang lain (Campbell, 1999; Campbell & Foster, 2001 dalam Campbell et al, 2002).


Self-esteem
Terjadi tumpang tindih antara narsistik dan self-esteem. Keduanya mendapatkan dipandang sama, yakni menyukai dan bahkan mencintai diri sendiri. Yang membedakan, terutama dalam hubungan antar individu adalah, narsisme bersifat sebagai ancaman, sementara self-esteem justru menguntungkan. Mungkin juga juga karena pandangan sosial yang membuat narsisme sebagai kutukan dan self-esteem menjadi anugerah.

Self-esteem merupakan penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Individu dengan self-esteem tinggi akan menilai dirinya secara positif. Dalam interaksi dengan orang lain, ia biasanya percaya diri, dan cenderung mengarah sebagai orang yang tampil dan pemimpin dalam kelompok.

Ironisnya, individu yang memiliki self-esteem rendah memandang dirinya kurang. Perasaan kurang ini, bisa nyata, bisa persepsi dirinya semata. Bisa jadi sesungguhnya ia memang punya kemampuan dan cemerlang dalam skill tertentu; namun pada saat yang sama kehilangan kepercayaan diri.


Self-defeating behaviors
Studi literature menunjukkan individu narsis memiliki perilaku seperti arogan, merendahkan orang lain, merespon ancaman ego dengan kekerasan dan agresivitas, menciptakan atribusi internal bagi kesuksesan (sukses karena kehebatan diri) dan sebaliknya atribusi eksternal ketika menghadapi kegagalan (gagal karena kesalahan lingkungan/pihak di luar diri sendiri), serta menilai masa depan secara berlebihan meski menghadapi kondisi yang tidak mendukung/kondusif.

Individu narsis juga tidak disukai oleh rekan sebaya/kelompoknya (meski biasanya telah menciptakan impresi diri positif) yang secara psikologis merasa dirugikan (Colvin, Block, & Funder, 1995 dalam Vazire & Funder,2006). In short, “as they yearn and reach for self-affirmation, [narcissists] destroy the very relationships on which they are dependent”(Vazire & Funder, 2006).


Narsisme dalam komunikasi sosial
Penekanan pada narsisme ada pada sikap memandang positif termasuk menilai diri sendiri namun secara berlebihan. Sifat berlebihan ini yang menyeret diri hingga merusak ikatan sosial dan sikap pada masa depan terkait pada estimasi dan selanjutnya dalam perencanaan hidup.

Pada perkembangan lingkungan sosial yang dinamis, kadang kita sering mendengar istilah narsis yang agak bergeser dari makna sesungguhnya. Narsis dalam bahasa gaul, menunjuk pada gaya humor antar individu yang berfungsi untuk mendorong kepercayaan diri dan penilaian diri positif, baik pada si subjek atau lawan bicaranya.

Gambaran individu narsis di atas bukan berarti susah dijumpai di lingkungan sosial kita. Orang-orang ini lebih dikenal sebagai orang sombong, yang cenderung mementingkan dirinya sendiri, menyelamatkan dirinya sendiri, kurang peka bahkan tidak memedulikan orang lain. Sikapnya jauh dari menyenangkan bahkan bisa berbuat kekerasan (seperti kekerasan verbal) demi melindungi egonya yang dirasakan terancam. Mereka inilah yang sesungguhnya menyandang gelar narsisme.

Tetapi karakter narsisme tidak begitu saja terlihat dalam waktu singkat. Mungkin salah satu petunjuk kilatnya adalah, ketika menemukan orang yang dengan renyahnya meremehkan atau merendahkan orang lain guna meninggikan dirinya sendiri dalam percakapan. Tentu tidak sekedar dalam nuansa kalimat, tetapi juga dari sikap dan bahasa tubuhnya. Orang yang sensi dan gampang tersinggung kalau di kasih nasehat, apalagi di tegur.

Ciri ini juga dikenal dalam teori outgroup-ingroup di mana salah satu cara untuk meninggikan kelompok adalah dengan merendahkan kelompok lain. Pada kenyataannya, hal ini terkait pada self-esteem diri (kelompok) yang rendah sehingga sangat membutuhkan pihak lain untuk direndahkan/diinjak sehingga ia (kelompok) mendapatkan dampak perasaan lebih baik, lebih tinggi.

Pertanyaan untuk pekerjaan rumah (PR) kita, apakah kita sering menemui orang seperti ini, atau kita lah yang insan narsis di lingkungan kita? Bagaimana dengan kelompok sosial kita, bangsa kita?


Literature

Vazire, Simine., Funder, David C. (2006) Impulsivity and the Self-Defeating Behavior of Narcissists. Personality and Social Psychology Review 2006, Vol. 10, No. 2, 154–165

Campbell,W. Keith., Rudich,Eric A., Sedikides,Constantine (2002) Narcissism, Self-Esteem, and the Positivity of Self-views: Two Portraits of Self-Love. PSPB, Vol. 28 No. 3, March 2002 358-368 © 2002 by the Society for Personality and Social Psychology, Inc.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori